PSIKOLOGI PENDIDIKAN

KATA PENGANTAR

 

Puji sukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT., atas berkat, rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Salawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW., beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya mudah-mudahan kita mendapat naungan safaat di Yaumil Mahsyar kelak.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan. Makalah ini menyajikan pembahasan tentang Motivasi Belajar. Yaitu menyangkut arti motivasi, teori motivasi, jenis-jenis motivasi, arti motivasi dan karakteristiknya, peranan motivasi dalam belajar, serta usaha guru dalam meningkatkan motivasi belajar.

Penulis menyadari bahwa isi dari makalah ini jauh dari sempurna. Demikian pula dalam penulisan makalah ini penulis tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Dengan senang hati penulis menerima saran, kritik, dan koreksi yang membangun dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah ini. Akhirnya, Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembacanya. Semoga kesuksesan selalu bersama kita semua. Amin.

Jakarta, 30 Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………..  1

DAFTAR ISI …………………………………………………………….  2

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………  3

BAB II MOTIVASI BELAJAR

  1.  A.  Devinisi Motivasi ………………………………………………………..  4
  2.  B.   Teori Motivasi …………………………………………………………..  5
  3. C.  Jenis-jenis Motivasi …………………………………………………….. 8
  4. D.    D . Motivasi Berprestasi dan Karakteristiknya ……………………..  10
  5. E.  Peran Motivasi dalam Belajar ………………………………………  13
  6. F.   Memotivasi Siswa dalam Belajar ………………………………….  17

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN ………………………………………………………  20

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………  21

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Setiap individu memiliki kondisi internal dimana kondisi iternal tersebut turut berperan dalam aktivitas dirinnya sehari-hari. Salah satu dari kondisi internal tersebut adalah “motivasi”. Motivasi adalah dorongan atas dasar yang menggerakkan seseorang bertingakah laku.

Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat mealaksanakan dan mau melaksanakan (Uno, 2007). Motivasi lebih dekat ketika melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapaitujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat.

Teori-teori lain yang juga telah dikenal adalah teori motivasi belajar, motivasi kerja, dan motivasi berprestasi, disamping teori motivasi lainnya. Namun, tanpa bermaksud mengesampingkan teori motivasi lain, dalam makalah ini yang akan ditonjolkan dalam pembahasannya adalah teori motivasi yang dikaji dari sudut pandang motivasi belajar serta motivasi berprestasi.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian motivasi?
    2. Sebutkan teori-teori motivasi dan jenis-jenisnya?
    3. Apa arti dari motivasi berprestasi dan karakteristiknya?
    4. Bagaimana peran motivasi dalam belajar?
    5. Bagaimana usaha guru dalam meningkatkan motivasi belajar
  2. C.    Tujuan Penulisan

Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat memahami arti motivasi belajar serta memiliki motivasi belajar yang tinggi untuk mencapai prestasi.

BAB II

MOTIVASI BELAJAR

  1. A.    Devinisi Motivasi

Secara etimologi kata motivasi berasal dari kata “motiv” yang artinya dorongan, kehendak, alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah tenaga-tenaga yang membangkitkandan mengarahkan kelakuan individu. Berikut ini merupakan pengertian motivasi menurut beberapa ahli.[1]

Mitchell, motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.

Gray, motivasi merupakan sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.

Morgan, mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).

McDonald , mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula.

Soemanto, secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau keinginan yang harus terpuaskan.

Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.

  1. B.   Teori Motivasi

Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan, teori penguatan,teori keadilan,teori harapan, teori penetapan sasaran.

  1. 1.      Teori Motivasi Abraham Maslow (1943-1970)

Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.[2]

Gambar 1 Hirarki Maslow

  • Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
  • Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
  • Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima,  memiliki)
  • Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan   dukungan serta pengakuan)
  • Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)

Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.

  1. 2.      Teori Motivasi Herzberg (1966)

Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).

  1. 3.      Teori Motivasi Vroom (1964)

Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:

  1. Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
  2. Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
  3. Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan
    1. 4.      Teori achievement Mc Clelland (1961)

Yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:[3]

  1. Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
  2. Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
  3. Need for Power (dorongan untuk mengatur)
  1. 5.      Clayton Alderfer ERG

Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.

  1. 6.      Teori Daya Pendorong

Teori ini merupakan perpaduan antara teori naluri dan teori reaksi yang dipelajari daya pendorong merupakan naluri, tetapi dengan suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arus yang umum. Oleh karena itu, menurut teori ini bila seorang pemimpin atau pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong, yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimiliki.

  1. C.   Jenis-jenis Motivasi

Jenis-jenis motivasi yang terjadi atas dasar pembentukannya menurut Sardiman terbagi atas 2 (dua) jenis, yaitu:

  1. Motivasi bawaaan, yaitu motivasi yang dilatar belakangi oleh fisio kemis di dalam tubuh seseorang yang telah dibawah sejak lahir dan terjadinya tanpa dipelajari.
  2. Motivasi yang dipelajari, yaitu motivasi yang terjadi karena karena adanya komunikasi dan isyarat sosial serta secara sengaja dipelajari oleh manusia.

Motivasi bawaan atau disebut juga dengan motivasi primer terjadi dengan sendirinya tanpa melalui proses belajar, sedangkan motivasi yang dipelajari atau motivasi sekunder muncul melalui proses pembelajaran sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman seseorang.

Berikut ini dikemukakan uraian mengenai motif yang ada pada manusia sebagai faktor pendorong dari prilaku manusia. :

  • Motif Kekuasaan 

Merupakan kebutuhan manusia untuk memanipulasi manusia lain melalui keunggulan-keunggulan yang dimilikinya. Clelland menyimpulkan bahwa motif kekuasaan dapat berfifat negatif atau positif. Motif kekuasaan yang bersifat negatif berkaitan dengan kekuasaan seseorang. Sedangkan motif kekuasaan yang bersifat positif berkaitan dengan kekuasaan social (power yang dipergunakan untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan kelompok).

  • Motif Berprestasi

Merupakan keinginan atau kehendak untuk menyelesaikan suatu tugas secara sempurna, atau sukses didalam situasi persaingan (Chelland). Menurut dia, setiap orang mempunyai kadar n Ach (needs for achievement) yang berlainan. Karakteristik seseorang yang mempunyai kadar Ach yang tinggi (high achiever) adalah :

  1.  Risiko moderat (Moderate Risks) adalah memilih suatu resiko secara moderat.
  2.  Umpan balik segera (Immediate Feedback) adalah cenderung memilih tugas yang segera dapat memberikan umpan balik mengenai kemajuan yang telah dicapai dalam mewujudkan tujuan, cenderung memilih tugas-tugas yang mempunyai criteria performansi yang spesifik.
  3.  Kesempurnaan (accomplishment) adalah senang dalam pekerjaan yang dapat memberikan kepuasaan pada dirinya.
  4. Pemilihan tugas adalah menyelesaikan pekerjaan yang telah di pilih secara tuntas dengan usaha maiksimum sesuai dengan kemampuannya.
  • Motif Untuk Bergabung 

Menurut Schachter motif untuk bergabung dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk berada bersama orang lain. Kesimpulan ini diperoleh oleh Schachter dari studinya yang mempelajari hubungan antara rasa takut dengan kebutuhan berafiliansi.

  • Motif Keamanan (Security Motive) 

Merupakan kebutuhan untuk melindungi diri dari hambatan atau gangguan yang akan mengancam keberadaannya. Di dalam sebuah perusahaan misalnya, salah satu cara untuk menjaga agar para karyawan merasa aman di hari tuanya kelak, adalah dengan memberikan jaminan hari tua, pesangon, asuransi, dan sebagainya.

  • Motif Status (Status Motive) 

Merupakan kebutuhan manusia untuk mencapai atau menduduki tingkatan tertentu di dalam sebuah kelompok, organisasi atau masyarakat. Parsons, seorang ahli sosiologi menyimpulkan adanya beberapa sumber status seseorang yaitu :

  1. Keanggotaan di dalam sebuah keluarga. Misalnya, seorang anggota keluarga yang memperoleh status yang tinggi oleh karena keluarga tersebut mempunyai status yang tinggi di lingkungannya.
  2. kualitas perseorangan yang termasuk dalam kualitas perseorangan antara lain karakteristik fisik, usia, jenis kelamin, kepribadian.
  3. Prestasi yang dicapai oleh seseorang dapat mempengaruhi statusnya. Misalnya, pekerja yang berpendidikan, berpengalaman, mempunyai gelar, dsb.
  4. Aspek materi dapat mempengaruhi status seseorang di dalam lingkungannya. Misalnya, jumlah kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.
  5. Kekuasaan dan kekuatan (Autoriry and Power).
  1. D.    Motivasi Berprestasi dan Karakteristiknya
  2. 1.      Pengertian Motivasi Berprestasi

Motif adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang; setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai (Hasibuan, 2007: 95).

Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang akan mengarahkan individu pada suatu tujuan agar dapat mencapai prestasi tertentu. Pencapaian prestasi didasarkan  pada suatu standar kesempurnaan.

Mc Clelland (dalam Thoha, 2007:236), membedakan tiga kebutuhan pokok manusia. Ketiga kebutuhan tersebut  adalah kebutuhan berprestasi, kebutuhan afiliasi dan kebutuhan berkuasa.  Motivasi berprestasi yang telah diuaraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi merupakan suatu usaha yang mendorong seseorang untuk bersaing dengan standar keunggulan, dimana standar keunggulan ini dapat berupa kesempurnaan tugas, dapat diri sendiri atau prestasi orang lain. Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi nampaknya akan memperoleh prestasi yang lebih tinggi.

  1. 2.      Faktor – Faktor Motivasi Berprestasi

Pada kenyataannya, ada siswa yang motif berprestasinya lebih bersifat intrinsik sedangkan pada orang lain bersifat ekstrinsik hal ini karena adanya:

  1. Faktor Individual

Penelitian Harter (dalam Hawadi, 2003:45) pada siswa berdasarkan dimensi instrinsik dan ekstrinsik menunjukkan bahwa hanya siswa yang mempersepsikan dirinya untuk berkompetensi dalam bidang akademis yang mampu mengembangkan motivasi intrinsik. Siswa-siswa ini lebih menyukai tugas-tugas yang menantang dan selalu berusaha mencari kesempatan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Sebaliknya, pada siswa dengan persepsi diri yang rendah, lebih menykai tugas-tugas yang mudah dan sangat tergantung pada pengarahan guru. Yang termasuk faktor individual antara lain pengarahan orang tua.

  1. Faktor Situasional

Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan.

Motivasi berprestasi seseorang akan tercermin pada  perilaku. Ada beberapa ciri yang menjadi indikator orang yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Individu yang motif berprestasi tinggi akan menampakkan tingkah laku dengan ciri-ciri menyenangkan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut tangung jawab pribadi, memilih pekerjaan yang resikonya sedang (moderat), mempunyai dorongan sebagai umpan balik  (feed back) tentang perebutannya dan berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara kreatif.

Dapat disimpulkan bahwa terdapat empat buah karakteristik yang membedakan antara seseorang yang motivasi berprestasinya rendah dengan orang yang yang motivasi berprestasinya tinggi. Keempat karakteristik itu ialah:

1)      Kemauan untuk melakukan aktivitas yang menunjukkan suatu prestasi orang yang motivasi berprestasinya tinggi akan mempunyai  anggapan bahwa keberhasilan disebabkan oleh kemampuan dan usaha yang sungguh-sungguh. Anggapan seperti ini akan menyebabkan orang tersebut bangga apabila dapat menyelesaikan suatu pekerjaan. Rasa bangga ini menyebabkan bertambahnya keinginan untuk melakukan aktifitas yang lain.

2)       Kegigihan berusaha. Usaha adalah faktor yang tidak setabil karena bertangung pada kemampuan seseorang, orang yang motivasi berprestasi tinggi akan cenderung bekerja keras sesudah mengalami kegagalan untuk mecapai sukses pada waktu-waktu selanjutnya, ia akan terus berusaha untuk mencapai tujuan yang sebelumnya gagal di capai. Sebaliknya orang yang motivasi berprestasi rendah menganggap kegagalan disebabkan oleh ketidakmampuan. Kemampuan adalah faktor yang stabil, tidak dapat di ubah oleh kemampuan semata-semata. Oleh karena itu, dalam anggapannya kegagalan akan diikuti oleh rentetan kegagalan pula. Pada individu yang rendah motivasi berprestasinya, usahanya untuk berprestasi juga lemah dan mudah menyerah.

3)      Mempunyai tujuan yang relistis dan meletakan sasaran di atas rat-rata.

4)      Kreativ inovativ

Dari uraian tentang ciri-ciri orang yang memiliki motivitas tinggi, akhirnya dapat dinyatakan bahwa individu akan mempunyai motivasi berprestasi tinggi akan mempresepsikan bahwa keberhasilan adalah merupakan akibat dari kemauan dan usaha. Sedangkan individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah akan menpersepsikan bahwa kegagalan adalah sebagai akibat kurangnya kemampuan dan tidak melihat usaha sebagai penentuan keberhasilan

  1. E.     Peran Motivasi dalam Belajar
  2. 1.      Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar

Suatu motivasi dapat memberikan peran dalam penguatan belajar jika, seseorang siswa yang sedang belajar dihadapkan pada suatu masalah dan memerlukan pemecahannya, dan hanya dapat dipecahkan melalui bantuan yang pernah ia lalui. Contohnya, seorang siswa akan mengerjakan soal matematika yang membutuhkan bantuan tabel logaritma. Tanpa bantuan tabel siswa tersebut tidak dapat menyelesaikan soal matematika dengan benar. Oleh karenanya siswa akan berusaha untuk mendapatkan tabel logaritma. Dari contoh ini dapat disimpulkan sesuatu dapat menjadi penguat belajar untuk seseorang. Guru harus peka terhadap keadaan yang demikian, agar ia dapat membantu siswa dalam memilih faktor yang ada di lingkungan sebagai bahan penguat belajar. Hal yang lebih penting ialah mengaitkan materi pelajaran dengan perangkat apapun yang berada paling dekat dengan siswa di lingkungannya.

  1. 2.      Peran Motivasi dalam Memperjelas Tujuan Belajar

Peran ini berkaitan dengan kemaknaan belajar. Siswa akan terttarik belajar, jika yang dipelajarinya sudah diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Contohnya, anak akan termotivasi belajar komputer karena ia tahu akan manfaat dari mempelajarinya.

  1. 3.      Motivasi menentukan ketekunan belajar

Anak yang telah termotivasi belajar, akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperolah hasil yang baik. Motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.

Berikut ini beberapa teknik motivasi yang dapat dilakukan oleh tenaga pendidik:

  1. Memberikan penghargaan secara verbal.

Penghargaan secara verbal terhadap perilaku yang baik atau hasil belajar siswa yang baik merupakan cara yang paling mudah dan efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Pernyataannya seperti “Hebat sekali, kamu dapat menyelesaikan tugas ini” kalimat ini dapat menyenangkan siswa, serta mengandung makna interaksi dan pengalaman pribadi yang langsung antara siswa dan guru.

  1. Menggunakan nilai ulangan sebagai penunjukan keberhasilan

Hasil tes dapat berpengaruh besar dalam meningkatkan motivasi siswa, bila siswa tersebut mendapatkan nilai yang baik guru senantiasa untuk mengingatkan agar tetap mempertahankannya.

  1. Menimbulkan rasa ingin tahu

Rasa ingin tahu dapat ditimbulkan oleh suasana yang dapat mengejutkan, keraguraguan, ketidaktentuan, adanya kontradisi, menghadapi masalah yang sulit dipecahkan. Hal tersebut menimbulkan konflik yang membut siswa penasaran, dengan sendirinya siswa berupaya keras untuk dapat memecahkannya.

  1. Memunculkan sesuatu yang tidak diduga
  2. Menjadikan tahap dini dalam belajar adalah mudah bagi siswa

Hal ini memberikan semacam hadiah bagi siswa pada tahap pertama belajar yang memungkinkan siswa terus bersemangat dalam belajar.

  1. Menggunakan materi yang dikenal siswa
  2. Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami.
  3. Menuntut siswa unutk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya.
  4. Menggunakan simulasi dan permainan.
  5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum.
  6. Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan.
  7. Memahami iklim sosial dalam sekolah.
  8. Memanfaatkan kewajiban guru secara tepat.
  9. Memperpadukan motif-motif yang kuat.
  10. Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai.
  11. Merumuskan tujuan semantara.
  12. Memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai.
  13. Membuat suasana persaingan yang sehat di antara para siswa.
  14. Mengembangkan persaingan dengan diri sendiri.
  15. Memberikan contoh yang positif.

Berikut merupakan bentuk-bentuk motivasi yang diberikan di sekolah:

  1. Memberi angka

Langkah yang harus ditempuh oleh guru adalah bagai mana memberikan angka-angka dengan dikaitkan pada nilai yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan, sehingga siswa tidak  hanya mendapatkan pengetahuan kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.

  1. Pemberian hadiah

Pemberian hadiah dalam kegiata pembalajaran dimungkinkan untuk senantiasa menyemangati siswa agar bersemangat dalam belajar.

  1. Memunculkan saingan/kompetisi\

Persaingan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan adanya persaingan dimungkinkan siswa dapat termotivasi.

  1. Ego-involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri adalah salah satu motivasi yang sangat penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.

  1. Memberi ulangan

Siswa akan giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan, tetapi guru jangan terlalu sering memberikan ulangan karena dapat membosankan dan bersifat rutinitas.

  1. Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjan, jika terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar.

  1. Pujian

Apabila siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberika pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus motivasi yang baik.

  1. Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.

  1. Hasrat untuk belajar

Ada unsur kesengajaan dan maksud untuk belajar, hal ini lebih baik bila dibandingkan segala sesuatu yang tanpa maksud.

  1. Minat

Motivasi muncul karena adanya kebutuhan,begitu juga minat sehingga tepat kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Minat dapat dibangkitkan melalui cara-cara sebagai berikut: (1) membangkitkan adanya suatu kebutuhan, (2) menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau, (3) memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, dan (4) menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

  1. Tujuan yanag diakui

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima dengan baik oleh siswa akan menjadi alat motivasi yang sangat penting, sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk belajar.

Bentuk-bentuk motivasi telah diurainkan diatas, hal terpenting bagi guru adalah dengan adanya macam-macam motivasi in dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna.

  1. F.    Memotivasi Siswa Dalam Belajar

Seseorang belajar tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang datang dari dalam dirinya, atau oleh stimulus-stimulus yang datang dari lingkungan, akan tetapi merupakan interaksi timbal balik dari determinan-determinan individu dan determinan-determinan lingkungan (Bandura,1977; 11-12). Hasil belajar dapat diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, perubahan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

  1. 1.      Belajar Melalui Model

Dalam teori belajar sosial Albert Bandura menekankan belajar melalui fenomena model, dimana sesorang meniru prilaku orang lain yang disebut belajar, yaitu; belajar atas kegagalan dan keberhasilan orang, hingga pada akhirnya seseorang yang meniru dengan sendirinya akan matang karena telah melihat pengalaman-pengalaman yang dicoba orang lain. Belajar dengan menggunakan model dapat digunakan melalui beberapa fase, yaitu fase perhatian (attentionnal), fase retensi (retentition phase), dan fase motivasi (motivation phase), fase-fase ini akan menghasilkan penampilan sesorang.[4]

Fese perhatian, merupakan model di dalam belajar, belajar ini merupakan perhatian yang menarik, yang merangsang minat pada siswa untuk mempelajarinya. Keberadaan guru di dalam kelas memberi makna bagi siswa, guru merupakan figur dalam kelas menjadi perhatian di kalangan siswa, gerak-gerik, gaya bicara, tabiat guru merupakan catatan tersendiri pada siswa.

Fase retensi adalah fase pengulangan , Bandura (1977;26) menyebutkan belajar sebagai observasional yang berdasarkan kontiguitas. Dimana kontiguitas diperlukan perhatian dan penampilan model serta penyajian simbolik dari penampilan itu dalam memori jangka panjang.

Fase reproduksi merupakan proses pembimbingan informasi dari bentuk bayangan kedalam penampilan perilaku yang sebenarnya. Misalnya, seorang guru olahraga memberikan latihan permainan basket, hanya beberapa siswa yang dapat melakukannya, maka guru memberikan contoh teknik-teknik permainan basket, guru harus dapat mengkoreksi aspek yang salah  pada siswa.

Fase motivasi merupakan fase terakhir dari proses belajar observasional, siswa meniru model untuk mendapatkan reinforsemen dan mendapatka informasi yang akan berguna dalam kehidupannya kelak, di dalam belajar ia berharap prestasinya bagus, nilai tinggi, dan naik kelas.

  1. 2.      Belajar Kebermaknaan

Kebermaknaan itu bersifat personal, dimana materi tersebut terasa penting dan prinsip bagi diri siswa. Guru berusaha menghubungkan pengalaman-pengalaman pada masa lampau dan akan datang.

  1. 3.      Melakukan interaksi

Interaksi antara siwa dan guru adalah proses komunikasi yang dilakukan secara timbal balik dalam menyampaikan pesan kepada siswa.

Oemar Hamalik (1990; 194-195) menjelaskan tentang cara mengkomunikasikan materi sehingga menimbulkan motivasi siswa yaitu sebagai berikut:

  1. Kemukakan tujuan yang hendak sicapai kepada para siswa agar mendapat perhatian mereka.
  2. Tunjukan hubungan, kunci agar siswa benar-benar memahami apa yang sedang diperbincangkan.
  3. Jealskan pelajaran secara nyata, diusahakan menggunakan media instruksional sehingga lebih memperjelas masalah yang sedang dibahas.
  4. Hindari pembicaraan dari hal-hal abstrak yang berada di luar jangkauan siswa, kecuali manggunakan alat bantu tertentu.
  5. Usahakan agar siswa mengajukan pernyataan-pernyataan agar terjadi komunikasi secara timbal balik.
  6. 4.      Penyajian yang Menarik

Sesuatu informasi yang disajikan dengan teknik yang baru  dengan kemasan yang bagus didukung olah alat-alat berupa sarana atau media yang belum pernah dikenal oleh siswa sebelumnya sehingga menarik perhatian merekauntuk belajar. Misalnya, guru menjelaskan kepada siswa tentang perkembangan pengetahuan manusia dengan mengambil contoh sebatang sayur kangkung yang hidup di air. Guru memperlihatkan batang kangkung dimana ada daun yang disertai dengan akar kemudian menumbuhkan daun dan akar lagi, bagi akar yang tidak dapat mendistribusikan makanan kebatang maka terlihat batangnya kecil begitulah sebaliknya.

  1. 5.      Temu Tokoh

Temu tokah diharapkanuntuk memunculkan need for achievement bagi siswa, mereka perlu suatu prestasi, bahwa prestasi tidaklah suatu hal yang mudah  didapatkan tetapi melalui suatu kerja keras, kisah-kisah nyata yang disampaikan oleh tokoh tersebut, akan tetapi terdapat treatment yang menyuguhkan kegigihan seorang tokoh. Kegigihan itu yang hendak di transfer kepada siswa jangan mereka pesimis, mudah lentur, semangat, jangan mudah menyerah, dan sebagainya.

  1. 6.      Mengulang Kesimpulan Materi

Setelah materi disampaikan kemudian umpan balik dari siswa telah dilakukan guru untuk beberapa orang, selanjutnya siswa diminta untuk mengulangi kesimpulan materi yang disampaikan dalam bentuk poin-poin, guru menuliskan poin-poin materi yang telah diuraikan sebelumnya untuk diingat dan kemudian catatan dihapus dari papan tulis.

  1. 7.      Wisata Alam

Bealajar tidak hanya di dalam kelas tetapi dapat pula dilakukan di luar kelas/alam bebas, ketika siswa telah merasa jenuh seorang guru dapat melakukan kegiatan belajar dengan bentuk wisata untuk menumbuhkan minat belajar baru. Pelajaran yang didapat melalui wisata alam akan mendorong mengembangkan pemikiran siswa (learning to think), menambah pengalaman belajar baru (learning by experience), menimbulkan rasa kepedulian, rasa kasih sayang (learning to compassion and to love), dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya (learning to live together).

 

BAB III

KESIMPULAN

 

          Motivasi adalah energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau keinginan yang harus terpuaskan.

Teori motivasi terdiri atas a) teori dorongan yaitu, prilaku didorong untuk menuju tujuan yang akan memberikan kepuasan suatu kebutuhan, serta meningkatkan intensitas dari tingkah laku itu; b) teori insentif yaitu, dorongan menjadi daya penarik insentif untuk memunculkan tingkah laku mencapai tujuan; c) teori optimal level yaitu, indivisdu selalu ingin mempertahankan keseimbangan dalam dirinya; d) teori kebutuhan Mc Clelland yaitu, need for achievement, need for power, need for affiliation.

          Jenis-jenis motovasi terbagi menjadi motivasi biologis, motivasi sosial: berprestasi; afiliasi; berkuasa, motivasi untuk mengetahui/efektif: mempengaruhi aktualisasi diri.

Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang akan mengarahkan individu pada suatu tujuan agar dapat mencapai prestasi tertentu. Pencapaian prestasi ini didasarkan pada suatu standar kesempurnaan.

Usaha guru di dalam meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu a) pemahaman yang jelas tentang tujuan belajar; b) penyesuaian tugas dengan kemampuan siswa; c) meningkatkan kepercayaan diri siswa, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Baharuddin, (2009). Pendidikan & Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-    Ruzz Media.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani, (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT         Grasindo.

Hamalik, Oemar, (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Nadlir, dkk. 2009. Psikologi Belajar. Learning Assistance Program for Islamic             Schools PGMI.

Yamin, Martinis. 2010. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada     Press.

M. Sobry Sutikno, 27-03-2-12. http://www.bruderfic.or.id/h-129/peran-guru-    dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa.html

http://www.damandiri.or.id/file/prantiyaunmuhsolobab2.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Nadlir, Psikologi Belajar, LAPIS PGMI, 2009. h. 9 – 8

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa, Jakarta: GP Press, 2010. h. 233.

MOTIVASI BELAJAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s