Berujung Masalah

Teman?? Bagiku teman adalah tempat untuk kita dapat saling bercanda, bercerita, berkeluh kesah , melakukan hal gila yang hanya sekadar menjadi penghibur hati dan mungkin banyak hal lain yang dapat dilakukan bersama. Ketika aku membutuhkan seorang sosok untuk mendengarkan apa yang sedang bergelut dalam hati ini, temanlah orang ke-2 yang kujadikan sebagai tempat untuk mencurahkannya. Tetapi tidak pada semua teman aku dapat menceritakan keluh kesah ini, hanya beberapa saja yang mungkin aku anggap dia orang yang dapat memahami dan mengerti apa yang ku alami, yang terpenting teman ku tidak seperti ember yang bocor. Apabila ember tersebut diisi air maka perlahan lahan air dalam ember akan habis serta berceceranlah air itu.

Suatu ketika aku mendapatkan seorang teman yang aku menganggapnya dia adalah orang yang baik, humoris dan tidak tahu malu. Komunikasi berjalan baik tak ada problem apa pun yang membatasi untuk aku dan teman-teman untuk melakukan komunikasi. Lambat hari demi hari, yaa yang namanya kami berteman saling bercerita ini dan itu merupakan hal yang wajar, sama saja sebenarnya sikapku terhadap teman-teman yang lain. Antara satu teman dengan teman yang lain kita saling bertukar cerita, bergembira ria, bersenda gurau, ect lah. 

 

Sikap ku selalu sama tak ada yang ku beda-bedakan antara teman satu dan lainnya. Bagiku buat apa aku membedakan sikap diantara teman-teman tak ada sesuatu yang lebih baik, malah bisa jadi akan ada renggang diantara kita bila itu terjadi. Mengapa aku katakan demikian karena salah satu dari temanku merasa bahwa ia merasa sangat dipojokkan dan tidak dianggap oleh teman yang lain, karena teman yang lain bersikap acuh padanya seolah dia hanyalah sebagai makhluk yang tidak bermanfaat untuk orang lain. Sejak terjadinya peristiwa itulah aku mencoba untuk memperbaiki sikap, bersikap biasa terhadap semua orang baik itu teman dekat maupun teman biasa. 

 

Haahh, senang rasanya aku memiliki teman-teman yang sangat baik terhadapku. Aku merasa mereka merupakan keluarga bagi ku. Pada hari itu komunikasi terjalin, kami bersenda gurau ya hanya sebagai suatu yang biasa aku beranggapan demikian. Namun itu justru menjadi bumerang bagi diriku sendiri, aku tak menyangka hal ini dapat terjadi. Entah mengapa orang telah ku anggap sebagai teman dia malah merasa sebagai orang lain yang entah apalah itu tak perlu aku menyebutkannya. Dia menyebarkan berita kesana kemari yang apabila informasi itu disampaikan kepada oarang lain maka ada penafsiran yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Mungkin telah banyak orang yang mendengarnya dan tibalah pada sebuah kesimpulan yang sesungguhnya tidak bersesuaian dengan informasi sebenarnya. Kesimpulan tersebut kini mungkin telah menjadi konsumsi publik yang semua orang telah mengetahuinya. Aku tak tahu mungkin harus berbuat apa dan bersikap bagaimana untuk menghadapi ini, tapi akan ku coba untuk memperbaiki ini semua. Sehingga tidak ada lagi selisih paham yang dapat terjadi, dan aku aku berfikir mungkin ini terjadi karena salah ku juga yang terlalu absur menanggapi sebuah masalah. Kini aku berusaha untuk memperbaiki itu agar tidak terulang dikemudian hari dan tidak ada satu orang pun yang merasakan sakit hatinya, sebab bila itu terjadi hal ini dapat menjadi jurang bagi aku dan teman-teman.

 

Kata terakhir yang ingin ku sampaikan ” maafkanlah aku yang telah berbuat salah pada teman-temanku, sesungguhnya aku tidak menginginkan hal ini terjadi tetapi karena telah banyak penafsiran yang telah ada maka aku kini menjadi sebagai seorang tersangka dalam masalah ini.     Sungguh aku tak bermaksud demikian, sama sekali aku tak memnginginkan ini terjadi, mungkin aku hanyalah orang yang lemah sehingga tak dapat mengungkap cerita sesungguhnya. Karena kau terlalu kuat dengan orang-orang yang ada dibelangmu, seandainya pun aku melakukan pemberontakan itu tak ada gunanya. Jika diibaratkan aku haya seekor semut yang harus melawan gerombolan gajah-gajah, sudah jelas aku akan kalah bahkan mati terinjak. Kini lebih baik aku yang mengalah, bukan berarti aku kalah tetapi mengalah untuk sementara waktu hingga semua keadaan ini berjalan sebagai mana mestinya seperti sedia kala.”

 

Ini ceritaku bagaimana dengan cerita mu, apakah lebih rumit dari ceritaku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s